atensi Kegiatan

Peluncuran Strategi Transformasi Digital Kesehatan 2024

Penelitian
atensi dilihat 710
7 Bulan yang lalu
Share
atensi atensi atensi
atensi

Jakarta, 16 Desember 2021. 

Prof. Dr. Purnawan Junadi, M. PH, PhD - Ketua Umum ATENSI menjadi salah satu pembicara panel di diskusi sekaligus acara “Peluncuran Strategi TRansformasi Digital Kesehatan 2024” yang berlangsung secara hybrid pada Kamis, 16 Desember 2021. Selain ATENSI, hadir pula Kanasugi Kenji - Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kunta Wibawa D,N - Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Norimasa Shimomura - Perwakilan Residen UNDP Indonesia, Budi Gunadi Sadikin - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dante S. Harbuwono - Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Setiaji - Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan, Anas Maruf - Kepala Pusat Data dan Informasi, Widyastuti - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Jajah Fachiroh - Dosen Departemen Histologi & Biologi Sel/ Ketua Tim Pengembang Biobank FKKMK UGM, Sophie Kemkhadze - Wakil Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Gregorius Bimantoro - Ketua HealthTech.id, dan Marsya Nurmaranti - Ketua Komunitas Indo Relawan.

Strategi digital dalam kesehatan bukan hanya sekadar menghubungkan masyarakat dengan layanan kesehatan yang merata tapi juga efisiensi, membantu akses dan data manajemen yang baik sekaligus membantu pengentasan COVID-19, tegas Norimasa Shimomura selaku Perwakilan Residen UNDP Indonesia. Penggunaan aplikasi kesehatan digital di berbagai daerah telah terbukti membantu banyak masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19. Melihat dampak sosial yang sangat positif ini, UNDP menyambut baik inisiatif Kemenkes untuk memperceat transformasi kesehatan digital di Indonesia. 

Sebagai langkah nyata dalam mempercepat transformasi digital di bidang kesehatan, Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan RI yang hadir secara virtual menyampaikan bahwa Kemenkes RI akan fokus pada 6 pilar transformasi, yakni transformasi layanan primer, layanan sekunder seperti layanan rumah sakit, layanan kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, dan teknologi kesehatan. Kemenkes memberikan kesempatan bagi inovator, aplikasi dan fasilitas kesehatan untuk berinovasi menciptakan sistem teknologi yang baik untuk melayani masyarakat. juga menekankan bahwa transformasi digital akan mengubah fokus digitalisasi di sektor kesehatan yang tadinya bersifat pelaporan, menjadi pelayanan bagi masyarakat. Di tahun 2022, Kemenkes akan fokus membangun dan melengkapi platform kesehatan. Sehingga, cetak biru yang jelas dalam transformasi digital dalam industri kesehatan menjadi kunci.

 

Dalam mewujudkan transformasi digital, integrasi data menjadi suatu komponen penting, kata Setiaji selaku Chief of Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI. Tantangan utama dalam membangun data kesehatan nasional adalah lebih dari 80% fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini belum tersentuh teknologi digital, data yang terfragmentasi dan tersebar pada ratusan sektor aplikasi kesehatan yang bervariasi, serta keterbatasan regulasi dalam standardisasi dan pertukaran data. Karenanya, di tahun 2022, fokus DTO ada pada pengembangan sistem big data yang mencakup sistem kesehatan berbasis individu, meliputi pandemi, keluarga sehat, dan stunting. Hal ini akan fokus pada jumlah sistem data kesehatan yang sudah terintegrasi dengan pusat. Kegiatan Integrasi & Pengembangan Sistem Aplikasi Kesehatan akan dikembangkan menjadi platform sistem fasyankes terintegrasi.

 

Prof. Purnawan Junadi mengatakan bahwa pandemi juga mendorong telehealth untuk semakin inovatif dalam memberikan akses kesehatan sehingga banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat.  Dimana sesuai dengan arahan Presiden agar masyarakat menggunakan “rumah sakit tanpa dinding”. Sejak saat itu, kunjungan masyarakat ke layanan telekonsultasi mencapai sekitar 5 juta kunjungan per bulan. Riset bersama dengan UNDP, menyebutkan para pemain telehealth di Indonesia sudah menjangkau masyarakat di 80 kota dengan pengguna mayoritas (63%) perempuan, dimana 20% diantaranya merupakan kelompok lansia. 

 

ATENSI mengakui, penetrasi telehealth di negara kepulauan ini tidak mungkin bisa merata tanpa adanya digitalisasi kesehatan. ATENSI juga menekankan pentingnya kolaborasi diantara pelaku industri kesehatan bersama pemerintah dalam mempercepat transformasi digital di bidang kesehatan. Kedepannya, ATENSI melihat pengembangan telehealth akan semakin cepat, seiring dengan adanya arahan Kemenkes. Adapun salah satu pengembangan telehealth kedepannya ada pada layanan digitalisasi kesehatan yang diharapkan mampu meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).